Pendidikan bagi Manusia sebagai Pengada Yang Nestapa

  • Harry Kristanto Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Keywords: happiness, despair, education, political pedagogy, critical discourse analysis, Kierkegaard

Abstract

In almost every aspect of life, human being always tries to seek happiness. At the same time, we tend to avoid situations which may lead to unhappiness. In fact, there are two undeniable phenomena that negate this tendency, namely, first, happiness has become a commodity that is packaged, advertised, and marketed. Second, despair and other forms of crisis often understood as the antithesis of happiness are actually the existential experiences of every human being. This obsession towards happiness has also infiltrated into education system so that education is understood as some kind of means providing solutions in order to overcome these forms of unhappiness and despair. In disagreement with it, based on Søren Kierkegaard's ideas, especially in Kierkegaard’s work entitled The Sickness unto Death, Peter Roberts argues that education should embrace despair because apart from being inevitable, despair does not always need to be understood as a problem that requires a solution. Education should not try to overcome it. On the contrary, education should work with it so that humans as despair beings are enabled to understand, identify, acknowledge, and discuss it. This idea is an invitation for every person to critically reflect on despair and to rethink the role of education in such crisis circumstances. For this reason, a revitalization of the pedagogical paradigm is necessary, for example by applying political pedagogy through critical discourse analysis methods that do not tend to remain muted in the face of existential despair, as well as injustice and any other social problems occurred structurally.

Abstrak

Hampir dalam setiap lini kehidupan, manusia senantiasa mencari kebahagiaan dan di saat yang sama menghindar dari situasi yang mengarah pada ketidakbahagiaan. Padahal, ada dua fenomena yang tak terbantahkan dan menegasi kecenderungan tersebut, yaitu pertama, kebahagiaan telah menjadi layaknya komoditas yang diperjualbelikan, dikemas, dan diiklankan. Kedua, kenestapaan dan bentuk-bentuk krisis lainnya yang sering kali dipahami sebagai antitesis dari kebahagiaan itu sebenarnya merupakan pengalaman eksistensial setiap manusia. Tendensi yang obsesif terhadap kebahagiaan itu juga telah merasuk ke dalam bidang pendidikan sehingga pendidikan dipahami sebagai sarana yang dapat memberi solusi agar dapat mengatasi bentuk-bentuk ketidakbahagiaan dan kenestapaan itu. Terhadap perkara di atas, dengan mendasarkan diri pada gagasan Søren Kierkegaard terutama yang dituangkan dalam The Sickness unto Death, Peter Roberts berargumentasi bahwa pendidikan justru seharusnya memeluk kenestapaan itu karena selain tak terelakkan, kenestapaan tidak perlu selalu dipahami sebagai masalah yang membutuhkan solusi. Pendidikan seharusnya tidak mencoba menghindari realitas kenestapaan, tetapi menanggapinya sehingga manusia sebagai pengada yang nestapa dimungkinkan untuk memahami, mengidentifikasi, mengakui, dan membahasakan keadaan krisis itu. Gagasan tersebut merupakan undangan bagi setiap manusia, bukan hanya bagi pelaku pendidikan, untuk secara kritis berefleksi mengenai kenestapaan dan untuk berpikir ulang mengenai kodrat serta peran pendidikan di tengah situasi krisis. Untuk itu, suatu revitalisasi terhadap paradigma pedagogis menjadi perlu, misalnya dengan menerapkan pedagogi politis melalui metode analisis wacana kritis yang tidak cenderung bungkam di hadapan kenestapaan yang eksistensial, maupun di hadapan ketidakadilan dan ketidakberesan sosial yang sering kali terjadi secara struktural.

Published
2022-10-06
How to Cite
Harry Kristanto. (2022). Pendidikan bagi Manusia sebagai Pengada Yang Nestapa. DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, 18(2), 164-191. https://doi.org/10.36383/diskursus.v18i2.307