John D. Caputo and Michael J. Scanlon (Eds.), Transcendence and Beyond: A Postmodern Inquiry, Bloomington, IN: Indiana University Press, 2007, ix+248 hlm.

  • M. Sastrapratedja Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Abstract

Buku ini merupakan kumpulan karangan yang ditulis oleh beberapa filosof terkenal, seperti John D. Caputo, Jean-Luc Marion, Richard Kearney, Gianni Vattimo dan David Wood. Pengantar buku ini memberi gambaran isi menyeluruh. Dengan istilah “transcendence and beyond” ingin diungkapkan pelepasan kata itu dari kungkungan kata itu sendiri, sehingga dicapai suatu dinamika: bila mentransendensi itu sudah berarti melampaui, kita ingin maju lagi: melampaui dan melampaui lagi. Bagaimanakah kata klasik itu bila ditempatkan dalam konteks postmodern? Apakah kita memerlukan transendensi yang terus melampaui? Transendensi yang transsenden? – plus de transcendence? Apa yang bisa ditransendensi?: subjek, kedirian, dunia yang kelihatan, pengada-pengada, bahkan Ada sendiri? Jean-Luc Marion dan Gianni Vattimo bermaksud meninggalkan transendensi klasik dan metafisika dengan menggunakan istilah “hypertransendensi,” transendensi transenden dan post-transcendence.

Kecenderungan pertama, misalnya pada Levinas yang berbicara tentang “tout autre,” yang “samasekali lain,” yang merupakan transendensi hiperbolik. Bagi Levinas, transendensi klasik tidak mencukupi karena terbatas pada “imanensi ontologis.” Juga transendensi pada Heidegger: dari pengada kepada Ada (dari beings kepada Being). Di dalam Totality and Infinity gerak transendensi itu adalah gerak bukan kepada Pengada yang lebih tinggi (higher being), tetapi “otherwise than being.” “God as otherwise than being” mengandung makna: melampaui kesamaan dan kelainan; bukan pula “first other;” bukan “other par excellence;” bukan “absolutely other;” tetapi “other than the other” (autre qu’autrui); “an alterity prior to the alterity of the other;” “transcendent to the point of absence.” [Lihat E. Levinas, Of God Who Comes to Mind, trans. Bettina Bergo (Stanford, CA: Stanford University Press, 1998, p. 69)]. Singkat kata, “Otherwise than Being” berarti melampaui forma dan kategori Being. Dengan itu pula Levinas keluar dari kategori metafisika. Levinas tidak berhenti di situ karena ia beralih dari ontologi ke etika, sehingga dimungkinkan untuk berpikir mengenai Allah sebagai “Yang Lain dari Yang Lain.” Menurut Levinas “Transendensi adalah etis dan subjektivitas yang dalam analisis akhir bukan ‘Aku berpikir,’ atau kesatuan dari apersepsi transendental, tetapi tanggung jawab kepada yang lain, ketertundukan (subjection) pada yang lain” (Levinas, Of God Who Comes to Mind, p. 68). Aras etis, menurut Levinas, bukan suatu aras ada (being) tetapi yang lain (otherwise) dan yang lebih baik daripada ada (being): inilah kemungkinan dari pelampauan (beyond). Kita harus menyelidiki makna transendensi sebagai peristiwa etika dan tanggung jawab adalah momen yang menentukan dalam etika – suatu momen apropriasi daripada momen Ada (Being). Pertanyaannya: apakah kita lebih dekat kepada pertanyaan tentang Allah? Bukankah kita berada di ambang memperoleh secercah keilahian sebagai yang bukan Ada (otherwise than Being)? Keterarahan kita kepada Allah (à Dieu), bagi Levinas, harus dibelokkan pada Allah (à Dieu) kepada sesama.

 

...........................................................

 

Bagi Gianni Vattimo, dengan “nihilisme” tidak dimaksud suatu relativisme apa saja. Tetapi dengan membaca Nietzsche melalui Heidegger ia memaksudkan “suatu pelemahan” atau “peredupan” dari (1) struktur pemikiran metafisik, pengertian yang kuat mengenai realitas yang sejati, realitas objektif; (2) pengertian teori korespondensi epistemologis demi kebenaran, sebagai isu hermeneutik; (3) pengertian kemutlakan moral lebih daripada kasih dan kepekaan akan situasi; (4) prinsip otoritarian dalam politik daripada proses demokratik dan emansipatorik. Vattimo menamakan itu sebagai “weak thought,” yang di Amerika Serikat disebut “nonfoundationalism” dan oleh para filosof kontinental termasuk Vattimo disebut “hermeneutika.”

Bagi Derrida diskursus tentang “beyond,” segala gerak dalam hyper, ultra, au-delà, beyond, über mengandung “messianic beyond.” Kegairahan akan “beyond” adalah kegairahan untuk pergi “kemana anda tidak bisa pergi,” kegairahan akan yang tidak mungkin. Suatu “peristiwa,” suatu masa depan yang secara radikal tak bisa diprogramkan, yang “akan datang” (à venir). “Peristiwa” (événement, dari kata venir) terjadi oleh karena “akan datang.” “Transendensi” bagi Derrida merupakan afirmasi datangnya peristiwa – suatu transformasi-diri tak berhingga dari kehidupan temporal kita, suatu kegairahan akan yang tidak mungkin. (M. Sastrapratedja, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).

Published
2011-04-11
How to Cite
Sastrapratedja, M. (2011). John D. Caputo and Michael J. Scanlon (Eds.), Transcendence and Beyond: A Postmodern Inquiry, Bloomington, IN: Indiana University Press, 2007, ix+248 hlm. DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, 10(1), 124-127. Retrieved from https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/206