Karim Schelkens, John A. Dick, Jürgen Mettepenningen Aggiornamento?, Catholicism from Gregory XVI to Benedict XVI, Leiden/Boston: Brill, 2013, vi+247 hlm.

  • Franz Magnis-Suseno Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Abstract

Membaca buku yang terbit dalam Brills Series in Church History ini mempesona. Buku ini begitu menarik karena menggariskan perjalanan intelektual dan teologis Gereja Katolik sejak Revolusi Prancis (1789-95) dan kekalahan Napoleon (1815) sampai ke tahun 2013, tahun Paus Benedikt XVI mengundurkan diri. Padahal 200 tahun itu adalah tahun-tahun terwujudnya modernitas. Maka buku ini memaparkan dan menganalisa bagaimana Gereja Katolik dan teologinya menghadapi modernitas. Di atas hanya 220 halaman para penulis memperkenalkan pembaca secara ketat, tetapi jelas dan rinci, dengan perkembangan amat dramatis teologi Katolik, dengan peranselalu peran kuncipara Paus, para teolog dan aliran-aliran teologi Katolik utama. Suatu perjalanan yang mulai dengan penolakan total Gereja terhadap modernitas, melalui tu-nas-tunas pembaruan sesudah perang dunia pertama yang akhirnya bermuara dalam pembukaan diri Gereja terhadap cita-cita manusia masa kini dalam Konsili Vatikan II (1962-65), namun pembukaan mana justru membawa Gereja ke dalam suatu krisis baru.

 

Modernitas yang dibahas dalam buku ini mulai dengan revolusi intelektual yang namanya pencerahan dengan segala macam kejutan: Rasionalisme, liberalisme dan sekularisme sebagai ideologi politik baru. Nasionalisme sebagai kekuatan politik amat dahsyat. Restorasi monarki-monarki sesudah kekalahan Napoleon, gerakan-gerakan populis-nasionalisseperti Risorgimento yang akan mempersatukan Italia, dengan sekaligus menghapus Negara Kepausan yang sudah berumur seribu tahun. Dua perang dunia di abad ke-20 yang mengubah wajah Eropa dan akhirnya membongkar kolonialisme dan imperialisme Eropa. Munculnya ideologi-ideologi sekuler keras seperti komunisme dan fasisme. Perang dingin dan anarki sesudah perang dingin selesai.

 

Para penulis berhasil menempatkan Gereja dalam pusaran global itu. Mereka menunjukkan bagaimana Gereja di bawah Paus Gregor XVI (1831-46), di bawah syok Revolusi Prancis, mengambil sikap konfrontatif total terhadap modernitas, menolak tuntutan demokrasi, kebebasan beragama dan perpisahan antara Gereja dan Negara. Konsili Vatikan I (1869-70) di mana penolakan itu memuncak dibahas secara rinci dengan latar belakangnya dan keanekaan aliran teologis yang sebenarnya kompleks, dan bagaimana Gereja Katolik mendefinisikan diri sebagai Gereja Kepausan. Kita mengikuti bagaimana Gereja kemudian mau mengamankan diri dari tantangan pemikiran filsafat modern dengan menetapkan neo-skolastik sebagai filsafat dan teologi resmi Gereja, bagaimana obsesi anti-modernisme mencapai puncaknya di bawah Paus Pius X (1903-14). Kita membaca tentang ultramontanisme, gerakan Oxford, perhimpunan ekstrem kanan Prancis Action Catholique (yang akhirnya dibubarkan oleh Paus Pius XI [1922-1939]), dan juga tentang Sodalitium Pianum (Persaudaraan Pius), suatu jaringan rahasia yang memata-matai para dosen teologi dan filsafat, yang kalau dicurigai ketularan modernisme dilaporkan ke Roma, lalu dipecat (ada sekitar lima puluh dosen yang disingkirkan sebagai terjangkit modernisme). Kita menyaksikan gerakan-gerakan pembaruan yang muncul sesudah PD I seperti gerakan liturgis, gerakan biblis, gerakan ekumenis, para imam buruh dan nouvelle theologie (teologi baru, yang meski 1949 dilarang oleh Paus Pius XII (1939-58) namun akan memberi dorongan-dorongan kunci pada pembaruan Gereja dalam Konsili Vatikan II).

 

...

 

Gambaran Gereja 2013 pada permulaan Kepausan Fransiskus dalam buku ini berkesan ambivalen. Sebenarnya pimpinanPaus, para Uskupmendasarkan diri pada paham Gereja Konsili Vatikan II. Tetapi reformasi struktur pemerintahan Gereja tetap macet. Tentang banyak masalah rincikeluarga berencana, selibat wajib, kemungkinan pe-nahbisan perempuan menjadi imam, desentralisasi kekuasaan, peng-angkatan uskup atau peresmian teks-teks liturgi bagi Gereja lokal, misalnya terdapat perbedaan-perbedaan pandangan serius antara banyak teolog Katolik dengan Vatikan. Padahal Gereja adalah komunitas ber-iman yang dibangun atas keyakinan bahwa Gereja adalah ruang di mana kita bertemu dengan, dan dibimbing oleh, Yesus Kristus. Kekuasaan yang dipegang oleh Paus semata-mata harus demi menunjang panggilan Gereja itu. Kalau dalam umat terjadi kesan bahwa pimpinan Gereja memakai kekuasaan yang ada di tangannya untuk mempertahankan struktur-struktur kekuasaan yang tidak lagi dapat dilegitimasi atas dasar Injil, kredibilitas Gereja sendiri bisa mengalami kemerosotan. Barangkali keengganan Vatikan untuk mengadakan reformasi nyata bukan karena Vatikan masih, untuk sebagian, terperangkap oleh gambaran Gereja Vatikan I, sebagaimana disindir dalam buku ini, melainkanmengikuti kritik ideologi Karl Marxkarena Vatikan, seperti setiap aparat, seakan-akan dengan sendirinya mati-matian mau mempertahankan kekuasaan. Apakah Paus Fransiskus yang telah membawa angin baru ke dalam Vatikan akan membawa perubahan? (Franz Magnis-Suseno, Program Pascasarjana, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).

Published
2015-10-19
How to Cite
Magnis-Susesno, F. (2015). Karim Schelkens, John A. Dick, Jürgen Mettepenningen Aggiornamento?, Catholicism from Gregory XVI to Benedict XVI, Leiden/Boston: Brill, 2013, vi+247 hlm. DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA, 14(2), 311-315. Retrieved from https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/view/17